Sedikit Mengenal Tanggalan Jawa

kalender jawaApa itu Tanggalan model Jawa? Tanggalan Jawa atau Kalender Jawa adalah penanggalan yang digunakan pada jaman Kesultanan Mataram yang memiliki keistimewaan yaitu perpaduan sistem penanggalan Islam, sistem penanggalan Hindu, dan sedikit mendapat sistem penanggalan Barat. Kalender Jawa sama halnya dengan kalender-kalender lain yang juga menunjukkan hari, tanggal, bulan, dan tahun. Dalam sistem kalender Jawa, terdapat didalamnya perpaduan antara siklus tujuh hari dan lima hari pasaran. Kelima hari pasaran tersebut adalah Kliwon, legi, pahing, pon, dan Wage. Dalam masyarakat Jawa, kedua macam siklus hari itu digabungkan dalam satu tanggalan, sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengadaptasi kedua jenis tanggalan tersebut sebagai acuan dalam aktivitas sehari-hari.

Arti Hari Pasaran Lima Dalam Tanggalan Jawa

Dalam perkembangannya dari jaman dahulu, siklus hari dalam Tanggalan Jawa berubah-ubah dan bermacam-macam. Pada jaman dahulu, orang Jawa kuno mengenal adanya 10 macam nama minggu, dan dalam seminggu jumlah harinya adalah 10 hari. Nama-nama minggu tersebut secara berurutan adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Hastawara, Nawawara dan Dasawara. Namun karena banyak mengalami perubahan yang dikarenakan terkena dampak adaptasi dari berbagai unsur kebudayaan dan ilmu pengetahuan modern, akhirnya ditetapkan hingga sekarang bahwa hari dalam penanggalan Jawa ada lima yang disebut dengan Hari Pasaran Lima.

Hari Pasaran Lima dalam Tanggalan Jawa kemudian sekarang ini dibuat dijadikan satu bersama ketujuh hari dalam kalender Masehi sebagai kesatuan. Kelima hari Jawa yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage secara berurutan terus berputar mengikuti tanggalan dalam Kalender Masehi. Hari-hari dalam Pasaran Lima melambangkan Patrap, yaitu sikap posisi bulan. Kliwon artinya Asih, melambangkan berdiri atau jumeneng. Legi artinya Manis, melambangkan berbalik arah belakang atau mungkur. Pahing artinya Pahit, melambangkan menghadap atau madep. Pon artinya Petak, melambangkan tidur atau sare. Dan yang terakhir, Wage artinya Cemeng, melambangkan duduk atau lenggah. Ada dua perhitungan pekan yang dipakai dalam penanggalan Jawa, yaitu perhitungan dengan siklus 5 hari yang disebut Pancawara, dan perhitungan dengan siklus 7 hari yang disebut Padinan.

Related posts: